Berita Terkini
(021) 1234 5678
disdik@bogorkab.go.id
Jalan Nyaman No. 1 Kel. Tengah Kec. Cibinong

Cerpen Siswi SMPN 1 Tanjungsari "SAAT KEHIDUPAN BAIK BERPIHAK"

Cerpen Siswi SMPN 1 Tanjungsari "SAAT KEHIDUPAN BAIK BERPIHAK"

 

SAAT KEHIDUPAN BAIK BERPIHAK


Karya : Putri Amelia



            Udara berkabut putih membungkus 4 gunung yang terlihat menjulang tinggi, dimana gunung-gunung tersebut hanya berjarak beberapa kilometer saja dari perkampungan yang bernama Kampung Lembahsari.  Kampung tersebut terletak ditepi, berbatasan langsung dengan hutan belantara.

            Pagi  itu, seorang anak laki-laki berumur sekitar 11 tahun  nampak tengah sibuk di ladang,  disaat  selazimnya anak-anak seusianya bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Ya..kehidupan Ganda memang tak seberuntung anak-anak lainnya. Ia  terpaksa harus putus sekolah untuk bekerja keras , menyambung hidup sehari-hari , membantu  Abah  mengurus kebun jagungnya. Sudah bertahun-tahun Abah ditinggal emak yang tewas terbawa longsor ketika  sedang mencari kayu bakar di  hutan.

            Suatu hari SD Cahaya Mekar, satu-satunya sekolah yang ada di kampung Lembahsari kedatangan seorang  guru baru dari kota. Pak Sobari namanya. Hampir setiap hari Ganda berpapasan dengan guru muda itu ketika hendak atau pulang dari ladang. Seperti pagi itu, Ganda berpapasan dengan pak Sobari yang berjalan beriringan dengan pak Kades.

“Di kampung ini mata pencaharian masyarakatnya adalah bertani. Kebanyakan dari mereka menanam jagung ,“ terdengar pak Kades menjelaskan.

‘Padahal kampung ini berada pada ketinggian yang baik untuk menanam strawberry, kenapa warga sini lebih memilih untuk menanam jagung? Sementara strawberry harganya jauh lebih mahal  dibanding jagung,”ujar Pak Sobari. 

Obrolan antara Pak Sobari dan Pak Kades  terus terngiang-ngiang di benak Ganda. Tak sabar rasanya ingin segera bertemu Abah untuk bercerita. Namun nampaknya Ganda harus bersabar menunggu, karena  Abah biasanya agak siang menyusul Ganda ke ladang. Tak lama berselang Abahpun datang dan Ganda menyambutnya dengan gembira.

“Abah, saya ingin menanam strawberry, boleh kan? Katanya harganya mahal Abah. Kita bisa untung besar,” kata Ganda sambil membuka rantang makan siang yang dibawa Abahnya.

“Apa…? Sobari…?? tanaman apa itu?” tanya Abah dengan kening berkerut .

“Bukan Sobari  Abah,tapi  strawberry!” tegas Ganda sambil tertawa  terbahak-bahak.

“Apa itu sto….stro……”

“berry!” Terdengar suara asing melanjutkan ucapan  Abah membuat tawa Ganda terhenti secara tiba-tiba.  Sebuah senyuman lebar  tampak menghiasi seraut wajah berkacamata,  pemilik suara asing tersebut.

“Selamat siang, saya kebetulan  lewat baru pulang dari mengajar. Saya sepertinya mendengar ada yang memanggil nama saya.” Ujar pemilik suara itu tersenyum ramah.

“Eh Pak Guru, maafkan kami pak..Ini  Ganda anak saya, tiba-tiba ingin menanam sobri  eh..stob apalah, menyebutkannya saja saya tidak bisa,” ujar Abah tersenyum malu.

“Strawberry, Abah..” gumam Ganda tertunduk dibalik tubuh  Abah.

“Kamu tertarik untuk menanamnya nak?” tanya pak Sobari  dengan suara lembut

“Boleh kan bah?” Ganda mengangguk girang ketika abahnya mengiyakan.

“Baiklah kalau begitu, saya akan pesan dulu bibitnya ke teman saya yang ada di kota. Kemungkinan  2 minggu lagi baru akan sampai disini. saya akan kembali setelah  jagung-jagungmu dipanen dan kita akan menanam strawberry bersama-sama.” Kata pak Sobari sebelum akhirnya pamit meninggalkan abah yang membelai kepala Ganda yang penuh  dengan  mimpi dan harapan yang ingin segera dia wujudkan.

            2 minggu berlalu tanpa terasa, panen jagungpun  sudah didepan mata. Dan panen kali ini hampir separuhnya gagal karena ditimpa kemarau berbulan-bulan. Dan hal ini tentu saja menyebabkan hasil penjualan jagung  tahun ini menurun dan itu membuat tekad Ganda untuk menanam strawberry semakin bulat. Dan hari itupun tiba, sesuai janjinya Pak Sobari datang dengan bibt strawberry beserta kantung – kantung seperti keresek hitam berukuran sedang.

“Ini apa pak?”tanya Ganda.

“Ini namanya polybag. Fungsinya untuk tempat menanam bibit strawberry kita nanti. Menanam strawberry itu tidak sama seperti menanam jagung yang bisa langsung ditanam diladang,” Ganda mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan pak Sobari dengan seksama.

“Ayo, kita isi polybag-polybag ini dengan tanah..!”ajak pak Sobari.

Dan dengan dibantu abah, merekapun asyik mengisi polybag-polybag tersebut dengan tanah. Hingga hari menjelang senja  akhirnya polybag terakhir terisi.

“Alhamdulilah..selesai juga”,ujar Ganda tersenyum  lega , disambut  senyuman yang sama oleh Abah dan Pak Sobari.

“Besok  adalah hari minggu, jadi saya punya waktu luang seharian. Kita akan mulai menyusun polybag-polybag ini di ladang Abah dan mulai menanam bibit strawberry kita,” kata Pak Sobari, Ganda mengangguk  dengan mata berbinar penuh harapan.

            Keesokan harinya, pagi-pagi sekali  Ganda dan Pak sobari berangkat ke ladang Abah, menanam bibit strawberry serta menambahkan pupuk kandang kedalamnya sebelum akhirnya polybag-polybag tersebut disusun rapi di setiap jengkal  tanah di hampir separuh ladang Abah.  Dengan sabar dan penuh ketekunan Pak Sobari membimbing dan mengajari  Ganda penanaman dan perawatan pohon strawberry dan Gandapun menyimaknya dengan seksama. Tiap hari, Ganda menghabiskan waktunya di ladang abah yang kini telah berubah menjadi kebun strawberry,  dari mulai terbitnya fajar hingga tenggelamnya matahari. Sementara  masyarakat sekitar menganggap apa yang dilakukan Ganda merupakan hal yang ganjil bahkan gila. Banyak omongan-omongan yang sangat tidak enak didengar, namun hal itu tidak menyurutkan semangat Ganda.

            Enam bulan berlalu, dan musim penghujan membuat cuaca sangat tidak ramah. Hampir  setiap hari langit mengguyur bumi dengan air yang demikian berlimpah. Hal ini membuat separuh batang-batang pohon strawberry di kebun Ganda terendam dan mati. Alhasil, kebun strawberry Ganda gagal total. Beberapa warga nampak turut prihatin  atas kegagalan Ganda. 

“Tuh kan saya bilang juga apa? Di desa ini cuma cocok untuk menanam jagung.  Kita itu sudah bertani selama bertahun-tahun”, kata mang Uhan, salah satu tetangga  Abah

“Ya namanya juga baru mencoba, wajarlah kalo gagal..”, sanggah Abah berusaha membela anaknya.

“Kalo coba-coba itu satu dua pohon dulu, bukannya langsung separuh ladang.  Kalo gagal meruginya jadi banyak kan?” ucapan mang Suha membuat wajah Ganda semakin muram. 

“Lagian orang kota dipercaya. Pak Sobari itu memang pintar, tapi dia itu seorang guru. Mana tau dia tentang pertanian?” cibir mang Suha.

Ganda semakin sedih dan kecewa. Semua orang seolah menyalahkannya.  “ Maafkan saya abah.  Gara-gara saya, kita merugi besar,”ujar Ganda penuh penyesalan.

“Tidak apa-apa nak, kita bisa mencoba lagi bulan depan”, kata Abah

“Tapi kita sudah rugi besar Abah..”Sanggah Ganda

“Siapa bilang kita rugi besar? Kita tidak rugi apa-apa. Semua bibit dan polybagkan di kasih sama pak Sobari, ingat? “Kata Abah mengingatkan.

“Iya sih Abah, Tapi saya jadi tidak enak sama pak Sobari. apalagi banyak warga yang menyalahkan dia,”Ganda merasa sangat bersalah.

“Makanya untuk menebusnya kamu tidak boleh menyerah.  Kita bisa belajar dari kegagalan yang kita alami. Kita bisa amati apa yang menyebabkanpohon-pohon strawberry kita mati”,ujar Abah.

“Batangnya terendam abah, jadi pohonnya pada mati”,jawab  Ganda lesu.

“Kalo begitu untuk yang berikutnya kita upayakan bagaimana caranya supaya batang-batang pohon strawberry diladang kita tidak terendam disaat musim penghujan tiba”,ujar Abah.

“Kita buatkan bale-bale dari kayu saja Bah!” seru Ganda dengan penuh semangat. Abah tersenyum senang melihat  semangat anaknya yang berkobar kembali.

Keesokan harinya Abah mendatangi Pak Sobari untuk menceritakan kegagalan mereka dan keinginan mereka untuk mencoba lagi. Kali ini Abah ingin ,memesan  bibit strawberrynya dan berjanji akan membayarnya setelah panen nanti.

Hari yang ditunggu-tunggupun tiba. Pak Sobari datang dengan membawa bibit strawberry dan kantung kantung polybag, sementara Ganda dan Abahnya telah menyiapkan pupuk kandang dan bale-bale yang terbuat dari bambu yang mereka ambil dihutan sejak seminggu yang lalu. Dan merekapun memulai dari awal lagi mengisi polybag-polybag dengan tanah, mencampurnya dengan pupuk kandang dan menanam bibit-bibit strawberrynya serta memberi lubang sebagai pori-pori pada polybag-polybag tersebut, lalu menyusunnya dengan rapi di bale-bale bambu yang dibuat agak tinggi sehingga jika musim penghujan tiba, air tidak akan mencapai batang pohon. Kali ini Abah mengijinkan Ganda untuk menanami seluruh ladangnya dengan strawberry.  Kini setiap hari Ganda menghabiskan waktu di ladang  merawat  dan memeriksa satu persatu polybag-polybag yang mulai ditumbuhi batang dan daun yang menghijau.

Tiga bulan berlalu, lepas dari musim penghujan yang dulu menggenangi  dan merendam ladang yang  mengalami gagal panen.  Kini, kabar baik itu akhirnya tiba. Bakal buah hijau  yang kemudian berangsur memerah  bermunculan dari batang –batang disetiap polybag membuat warga yang melihatnya tercengang.  Abahpun mengambil perannya saat buah merah ranum strawberry siap dipanen, menjualnya ke pasar serta dengan bantuan Pak Sobari, merka berhasil memasok strawberry ke supermarket yang ada dikota. Keuntungan sangat besar, bahkan jauh lebih besar dibanding hasil panen jagung paling bagus sekalipun. Dan kini,  Ganda bisa kembali bersekolah  dan menjadi murid kebanggaan pak Sobari.

 

 

=SELESAI=