Berita Terkini
(021) 1234 5678
disdik@bogorkab.go.id
Jalan Nyaman No. 1 Kel. Tengah Kec. Cibinong

Cerpen Siswa SMPN 1 Tanjungsari "Manusia Karantina"

Cerpen Siswa SMPN 1 Tanjungsari "Manusia Karantina"
                                                                                      MANUSIA KARANTINA

Karya: Dimas Tri Satrio

Depok, sebuah kota kecil yang menjadi bagian dari wilayah yang biasa disebut Jabodetabek, adalah sebuah daerah pinggiran ibukota yang masih menyimpan nuansa hijau pepohonan dengan lingkungan alami yang masih bertahan. Entah sampai kapan nuansa itu terhindar dari gangguan gejolak pembangunan dan pola hidup khas metropolitan demi mengejar sesuatu yang disebut dengan perkembangan.
 Namun siapa sangka, kota yang masih memiliki pola lingkungan campuran  antara lingkungan alami yang kental akan tradisi  dengan  kehidupan metropolitan  yang modern  ini, menjadi pintu masuk serangan makhluk kecil yang paling dibenci masyarakat dunia  untuk masuk ke Indonesia. Saat  perbatasan tanah air dan negara tetangga sedang diantisipasikan untuk segera  Lockdown, makhluk kecil itu dengan santainya diam-diam melewati penjagaan ketat dan mulai membuat kemah liburan yang merugikan sekaligus membuat peradaban baru yang merusak tatanan peradaban yang sudah ada.
 “Kriiiinnggg...” bunyi yang sama dan kudengar setiap harinya menggetarkan tulang martil kecilku, memaksakuku untuk membuka mata dan meninggalkan pertarungan yang hampir saja kumenangkan di alam mimpi. Ingin rasanya kubanting benda bulat itu.  Tapi ku urungkan niat itu karena aku tak ingin kehilangan lonjakan semangat untuk mengawali hari ini,  Dan alarm, kau kembali memenangkan taruhan dengan membangunkanku pagi ini.
Kegiatanku hari  ini hanya mengikuti alur yang sama yang biasa kulakukan. Tak ada yang berubah. Mulai dari adegan saat kubangun, hingga menutup pintu. Hanya itu-itu saja. Terkadang hal ini membuatku bosan. Sungguh, tak ada cara lain agar aku terhindar dari aktivitas-aktivitas tersebut, kecuali  menambah jam tidurku untuk melaksanakan ritual liburan yang jarang-jarang bisa kudapatkan selain pada situasi yang sedang genting seperti saat ini. Dan itu benar-benar tidak sehat bagi tubuh. Terjaga karena menonton tayangan film yang tak ada habisnya hingga larut malam. Terbangun dengan kaki di atas dan kepala di bawah, Sama juga tidak sehatnya. Mungkin sebagai pelarian, berkebun sepertinya akan mulai kuminati.
“Kriiinnggg...” dering ponsel yang kupikir bunyi alarm yang terus-terusan mengganggu hidupku terdengar memekakan telinga. Oh...ternyata panggilan seluler dari Pak Bos yang sering memberiku banyak pekerjaan pada hari-hariku sebagai staff Administrasi di Kantor. Hmm…kali ini apa yang akan dia berikan padaku  disaat libur seperti ini? 
“Halo, Pak Galih! Selamat Pagi! Ada kabar apa, Pak?” sapaku.
“Oh, Hai! Pagi, juga? Hari ini kamu libur kan?” balasnya diiringi pertanyaan yang membuat keraguan tidak mendapatkan pekerjaan hancur. Sudah kuduga.
“Iya, memangnya kenapa Pak?” tanyaku kemudian..
“Hari akan ada kunjungan dari perusahan lain dan akan  meeting kerja sama, saya harap kamu hadir ,” katanya memberi kabar yang menghancurkan harapanku untuk bersantai ria dihari ini.
“Meeting? Di situasi seperti ini?  Bukannya dilarang untuk melakukan perkumpulan? Kenapa tidak virtual saja pak?” aku mencoba mengelak.
“Sudah, jangan banyak tanya. Datang aja, ya!” ucap Pak Galih mengakhiri pembicaraan. 
Hatiku mulai dipenuhi rasa penasaran. Pertanyaan mulai bermunculan di dalam otakku. Apa yang telah aku lakukan? Apakah aku telah melakukan kesalahan sehingga harus dipanggil ke Kantor. Padahal, kondisi sekarang ini sedang mencekam karena  ulah teroris Corona yang bertujuan untuk mengambil-alih kota. Dan aku, harus pergi keluar melewati zona merah ditengah perang yang sedang berkecamuk? Ah yang benar saja..!
Dari pada menduga-duga hal yang tidak jelas kepastiannya, akhirnya kuputuskan untuk menemui Bos bermulut lebar dan berlidah pedas itu. Sudah ribuan kali aku merasakan bagaimana sifat itu ia tunjukkan di hadapanku. Aku tak tahu, apakah ini merupakan suatu ketegasan untuk menegakkan kedisplinan atau memang sudah merupakan bagian dari karakter kepribadiannya. ”Ya sudahlahlah..daripada harus diberhentikan dengan tidak hormat dari tempat di mana aku menimba penghasilan,”pikirku. Waktu menunjukan pukul 06.30, dan aku harus memasukan kartu absen pukul delapan pagi ini.Aku menghela napas lalu segera beranjak dan menutup pintu rumah. Tak lupa  membawa peralatan wajib yang harus digunakan saat ini, masker, sarung tangan, dan handsanitizer. Yah, aku tak mau kehilangan teman-teman di kantor yang  menjauh dariku hanya karena tak memakai masker. Itu  sangat menyebalkan apalagi pada saat aku sedang membutuhkan bantuan mereka. 
Aku berjalan menelusuri trotoar yang kelihatan agak lebih lebar dari biasanya. Nampaknya para pejalan kaki di sini sedikit berkurang karena lebih memilih rebahan di atas kasur daripada jalan-jalan tak jelas dengan resiko tinggi. Jalan raya yang sebelumnya padat dengan kendaraan yang berjarak kurang dari 2 meter bahkan tanpa jarak pada jam-jam sibuk, sekarang kulihat jarak antar kendaraan mencapai 10 sampai 15 meter. Dan  lampu lalu lintas merah kesepian,  tak ada hingar bingar bunyi klakson ataupun omelan-omelan penuh emosi dari para penunggunya hingga berubah menjadi hijau. Sungguh hari yang sangat sepi  dan tenang. I realy love it!
Setelah berjalan beberapa blok dari rumah, kulihat café  terbuka tempat  nongkrong anak-anak muda  nampak ramai oleh pengunjung yang merupakan pembeli tetap ataupun hanya sekedar nongkrong-nongkrong saja. Tanpa menggunakan masker ataupun pelindung lainnya, mereka dengan bebas asyik mengobrol dan bercanda, tertawa-tawa. Sungguh, aku tak mengerti apa yang ada di pikiran mereka. Himbauan dan peringatan besar-besaran dari pemerintah hanya dijadikan hiburan, sementara sanksi tegas dijadikan sebagai tantangan. Benar-benar membuatku tak habis pikir!. Aku terus berjalan melewati kerumunan yang menatapku dengan pandangan ganjil, seakan aku ini orang paling aneh sedunia. Mereka mulai berbisik-bisik dan ada pula yang dengan sengaja mengencangkan volume suaranya agar terdengar olehku.
“Lebay!” kata seorang pemuda dengan senyum sinisnya. Aku hanya melirik sekilas. 
“Paling mukanya jelek tuh sampe-sampe ditutupi kayak gitu?” ucapnya diiringi tawa teman-temannya.
“Eh jangan begitu, siapa tau wajahnya sensitive kayak wajah aku!” ujar seorang gadis muda yang ada di depannya.
“O ya? Koq maskernya gak dipake?”tanya yang lain.
“Aku pake maskernya malam, masker bengkuang. Biar gak jerawatan, hi hi hi…katanya cekikikan.
 
“Ha...ha...ha..lagian ribet amat pake gituan segala. Orang-orang seperti kita yang penting bisa makan kenyang dan usaha  lancar., beres deh. Gak usah mikirin virus corona-corona!”tambah pria bertubuh tambun menatapku dengan pandangan mengejek. Aku hanya menghela nafas. Dengan sikap tak peduli,  kupercepat langkah menuju halte busway.
“Sudahlah, Rico, kau tak perlu pedulikan omongan orang-orang gila itu! Fokus saja pada pekerjaanmu!” gumamku dalam hati. Dan busway yang setiap harinya berjalan-jalan mengelilingi jalanan kota berhenti di hadapanku. Pintu terbuka, dan seorang petugas dengan APD  lengkap mengarahkan termometer digital ke arah dahiku sebagai antisipasi yang sudah biasa dilakukan. Dan aku tak terkejut. Tentu saja, pengamanan yang sangat ketat ini akan membuat semua orang bahkan penjahat terkenal sekalipun berpeluang untuk tertangkap basah karena tak memakai masker. 
Setelah menatap tajam petugas pemeriksa suhu tubuh yang sangat teliti melihat angka termometer dan menanyakan  seputar alasanku meninggalkan nyamannya rumah demi perjalanan yang penuh resiko di luar, kudapatkan kursi kosong. Kosong dari orang dan kosong dari tanda silang merah sebagai tanda larangan untuk diduduki  guna mengurangi setengah jumlah tempat duduk di transportasi publik dalam rangka pelaksanaan program pemerintah yang disebut  Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB. Dan selebihnya, hal ini dapat  mengurangi peluangku untuk berdesakan saat menaiki busway pada jam-jam sibuk. Namun, jika aku telat sepersekian menit saja akan mengakibatkan aku tertinggal karena jumlah penumpang tidak boleh melebihi kapasitas.
Memasuki area perkantoran, beberapa petugas keamanan siap dengan peralatan lengkapnya menunggu di balik pintu. Menyambutku dengan Alat Pelindung Diri lengkap.  Masker, Handsanitizer, dan Disinfektan tak luput di samping mereka. Sebelum masuk ruang perkantoran, tiap orang yang datang dipersilakan untuk membersihkan tangan di wastafel  dekat meja administrasi. Layaknya seorang bodyguard mereka mengawasi tiap orang yang datang dan tak segan–segan menegur setiap orang yang tidak patuh.
 “Oke, Sudah bersih?”tanyaku memastikan sambil menunjukan kedua tanganku.
“Ya...silahkan, masuk!” ucap salah seorang petugas mengangguk memberi hormat.
Sebenarnya aku agak canggung dengan perlakuan seperti ini. Namun demikian , aku  sangat mengapresiasi tindakan mereka karena dalam menegakan peraturan memang diperlukan ketegasan. 
Ketika beberapa langkah dari batas tangga, seseorang menghampiriku dengan kecemasan luar biasa tergambar di wajahnya.
“Selamat pagi Pak Galih!” sapaku tersenyum dan mengangguk tanda hormat.
“Owh, kamu. Mari, ikut saya!” ujarnya, akupun beranjak mengikutinya.
“Yahh...istirahat juga belum, masa harus langsung kerja sih?” gerutuku dalam hati.
Pak Galih pun langsung menuju ruang pertemuan. Hmm..pasti membahas keuangan. gumamku tersenyum senang membayangkan bonus uang jutaan. Ketika pintu terbuka, nampak Pak Dani sudah menunggu di sana. Aku jadi malu, segera kutepis segala pikiran yang hinggap dibenakku. Pejabat tinggi perusahaan itu  mendahuluiku memasukkan kartu absen di mesin pemindai sidik jari seketika meruntuhkan keangkuhan dan kesombonganku dan membuatku merasa bahwa aku bukan apa-apa. Dia, orang hebat dan masih setia untuk merelakan waktunya bersama kesuksesan untuk tetap menjadi orang yang produktif. 
“Selamat Pagi!” sapaku merendah dengan senyuman lebar berharap dia bisa memaafkan kesalahanku.
“Pagi! Silakan duduk!” jawabnya dengan sedikit penekanan pada suaranya. Kuharap, itu bukan karaena aku melakukan kesalahan.
“Kita akan mengadakan rapat penting dengan perusahaan saingan kita untuk melakukan kerja sama. Situasi ditengah Pandemi ini membuat setengah dari pegawai mereka akan di PHK. Saya sendiri belum tahu kesepakatan apa yang akan kita buat,  tapi, kita akan menyambut kunjungan mereka, setelah itu baru kita bahas maunya mereka apa” Pak Dani menjelaskan tujuan dipanggilnya aku untuk  masuk kantor ketika aku sedang menikmati rebahan santai di rumah.
“Drrriiiinngggg....” bel detektor api berdering panjang. Membuat jantungku berdetak dua kali lebih cepat. Suara itu membuat semua orang yang ada di ruangan menjadi panik seketika . Kamipun segera melangkah menuju ruang aula dekat pintu masuk yang utama yang merupakan sumber dari kegaduhan yang terjadi pagi ini. Namun, tak nampak kepulan asap  ataupun percikan api yang terdeteksi sehingga menyebabkan bel berbunyi nyaring. 
Sementara, terdengar keributan di ruang sebelah. Sepertinya sedang terjadi adu argumentasi dan adu pendapat yang cukup sengit antara seorang wanita dan dua laki-laki melawan penjaga di pintu masuk. Kami pun segera mendekati sumber suara yang sungguh mengganggu gendang telinga itu.
“Gak usah ngatur-ngatur deh” kata seorang wanita dengan penekanan. Raut wajahnya seperti orang yang sedang menderita kerugian miliaran rupiah saja.
“Ada apa ini?” tanya Pak Dani bergabung ke dalam obrolan sengit mereka. 
“Ini ni, cuma jadi penjaga aja sok mau ngatur-ngatur aku!” jawabnya kepada Pak Dani dengan wajah sinis.
 “Maaf, Bu. Ini sudah menjadi perauturan di perusahaan kami bahwa siapapun yang berkunjung harus mengikuti protocol kesehatan untuk mencegah persebaran virus corona. Jadi, Ibu ikuti saja langkah-langkahnya,” ucapnya Pak Dani berusaha menurunkan emosi yang bergejolak di kepala wanita tersebut.
“Tidak bisa begitu pak, saya tersinggung dengan kelakuan petugas anda. Saya sehat koq, masa wanita cantik seperti saya diperlakukan seperti ODP!” Sanggah wanita itu.
“Maaf ibu, aturan ini berlaku untuk semua orang termasuk saya!” tegas pak Dani.
“Saya gak mau tahu,  pokoknya saya gak mau cuci tangan, titik! Dan sepatu saya, saya tidak mau sepatu saya disemprot  cairan disinfektan. Kotor, bau, nanti sepatu mahal saya malah jadi rusak, bapak mau tanggung jawab?” tanyanya dengan keangkuhan yang cukup membuat kami berdecak. Wajah Pak Galih merah,padam menahan emosi, sedangkan Pak Dani menghela napas keras-keras. Sementara para Penjaga Pintu berusaha menahan tinjuku yang dengan refleks melayang kearah wanita itu. Penghinaan terhadap orang yang kukagumi sungguh tidak bisa diberi toleransi. Sementara dua Asisten yang mendampingi wanita itu berusaha melindungi majikannya. Lalu..praaaang..!! Kami terhenyak, waktu seolah terhenti sesaat ketika wanita itu beranjak pergi bersama kedua asistennya dengan meninggalkan pecahan vas bunga guci porselen yang berserakan di lantai. Wanita itu meluapkan amarahnya dengan cara yang unpredictable.
Aku sungguh tak habis pikir, Bagaimana bisa, orang seharusnya “mengemis” kerjasama berani menghancurkan aset  perusahaan  dan secara terang-terangan menabuh genderang perang dengan pemilik perusahaan itu sendiri. Lalu dengan  tak tahu malu ia melakukan hal yang di luar batas hanya karena dia tak punya lagi kata-kata untuk membalas ucapan Pak Dani. 
“Ya ampun, entah apa yang merasukimu..” gumamku menepuk jidat.
Melamun di Bus Kota dalam perjalanan pulang menjadi kebiasaanku yang tak pernah berubah dari tahun ke tahun. Terbayang kembali peristiwa tadi pagi yang sungguh menguras emosi, namun akhirnya mampu menbuatku tersenyum-senyum sendiri mengingat jika saja tinjuku berhasil mendarat diwajah wanita sombong itu, pasti akan lebih seru, he he he.. 
Lamunanku buyar seiring bus melambat, dan berhenti di sebuah halte. Aku melangkah, menuruni Bus, dan berjalan menyusuri trotoar melewati café terbuka yang tetap saja ramai dari tadi pagi hingga hari menjelang sore begini. Namun ada yang aneh dengan kerumunan orang-orang itu. Tidak seperti tadi pagi yang penuh keceriaan, kerumunan sore ini dihiasi dengan kepanikan di wajah-wajah mereka. Sekilas kulihat beberapa orang mengelilingi seseorang yang tergeletak di sudut trotoar. Dengan tetap menjaga jarak aku mendekat. Saat, kuteliti  ternyata dia adalah pemuda bertubuh tambun yang tadi pagi mengejekku tepat di tempat ini. Aku tak tahu apa yang terjadi padanya, tapi aku segera menghubungi pusat layanan kesehatan agar mendatangkan petugas kemari guna berjaga-jaga jika  ia benar-benar terpapar pandemic dan aku masih punya peluang untuk tidak terpapar juga.
Tak lama berselang sebuah Van Putih berhiaskan tanda palang merah dengan orang-orang terpilih lulusan ilmu kedokteran pun tiba. Dengan sirine yang meraung-raung terdengar hingga jarak 500 meter. Para petugas berpakaian putih tebal layaknya Pakaian Astronot itu mulai mendekati tubuh tambun yang  tegeletak lemas di atas trotoar. Ketika petugas  menyentuh tangan orang tersebut, seketika ia bangkit dan berteriak “I got you!  Kalian kena frank..” ujarnya berdiri dan melonjak-lonjak kegirangan. Sementara  orang-orang disekitarnya nampak tertawa terbahak-bahak. Aku tersentak lalu kutatap orang-orang itu dengan  pandangan bingung. Sungguh sebuah joke yang sangat tidak lucu! 
Namun suasana berubah menjadi kepanikan saat para petugas memaksa pria itu untuk masuk kedalam ambulance diiringi teriakan-teriakan protes dari teman-temannya, pria itu dibawa dengan setengah diseret oleh para petugas..
“Maaf, saudara-saudara, orang ini terpaksa kami bawa.  Dia adalah  PDP yang kabur dari  Rumah Sakit seminggu yang lalu. Kami sudah mencarinya ke mana- mana, rumahnya selalu kosong, dia tak sering ada di ruang public dan sangat sulit untuk di Karantina,” ujar seorang  dokter  menjelaskan. “Bagi yang selama seminggu ini melakukan kontak dengannya, harap untuk melakukan karantina mandiri di rumah masing-masing” imbuhnya.
 “Terima kasih atas kerjasamanya!”, seorang dokter menyalamiku sebelum akhirnya berlalu.
“Sama-sama dok, senang bisa membantu,” aku tersenyum bangga karena hari ini aku telah menjadi pahlawan kesehatan.!
Setibanya di rumah, aku menghela napas, lelah setelah seharian berpetualang di dunia jumanji, menemui banyak hal yang bisa membuatku tertawa sendiri..”Begitu banyak orang-orang aneh!” gumamku sambil merebahkan tubuh lelahku.
“Kriiinggg...” dering ponsel panjang tak henti-hentinya mengganggu me- time. Dengan malas kuangkat telepon dari Billy, salah satu rekan kerjaku yang memiliki hobby bergosip.
“Halo, Rico...!” terdengar suara Billy
“Ya Bill, kenapa?” tanyaku 
“Aku punya kabar menarik..!” ujarnya memancing hasratku untuk mendengarkan gossip yang terjadi hari ini.
“Kamu ingat perempuan sombong yang tadi pagi datang ke kantor? Ternyata dia  berstatus OTG dan positif Corona  Kabarnya sepulang dari kantor kita, dia drop dan kondisinya sekarang semakin parah!” Sejenak aku tertegun mendengar kabar itu. Rupanya karma telah menjalankan tugasnya dengan cepat.
Tiga hari kemudian,“Krriinnggg...” ponselku berdering kencang memaksaku membuka mata di hari minggu siang ketika tertidur didepan TVyang masih menyala. Dengan malas kuangkat telpon dan…
“Hai Rico, ini aku, Billy. Aku punya kabar baru, wanita sombong itu meninggal dunia tadi malam dan jenazahnya langsung  dibawa ke kampung halamannya di Semarang Jawa Tengah untuk dikebumikan,” Aku tertegun tanpa bisa berkata apa-apa.. Energi ingatan tentang peristiwa keributan beberapa hari yang lalu masih lekat tertancap dan masih menjadi topik utama dalam lamunanku. Namun, semakin waktu berlalu, energi itu kian melemah dan meredup layaknya komet yang bergerak menjauh dari atmosfer. Entah sampai kapan ini berakhir. Dan untuk saat ini, hanya siaran televisi yang menemani hari-hariku sebagai Manusia Karantina Mandiri.“Dilaporkan, aksi masyarakat yang menolak jenazah  yang terpapar virus corona, terjadi di Semarang, Jawa Tengah,” prolog presenter Berita.
Aku kembali tertegun…

 =SELESAI=